MAKASSAR — Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Makassar menggelar kegiatan pelatihan pengolahan hasil perikanan untuk memanfaatkan kekayaan laut yang didesain inklusif. Acara yang berlangsung selama dua hari ini dimulai pada Rabu, 1 Juli 2026 hingga Kamis, 2 Juli 2026, bertempat di Hotel Ibis Sam Ratulangi, Makassar.
Dalam menyukseskan program ini, Disperindag Kota Makassar menggandeng Kelompok Wanita Pesisir Fatimah Az-Zahra. Ketua kelompok tersebut, Nuraini, hadir langsung sebagai narasumber sekaligus instruktur utama yang memandu jalannya pelatihan praktik pengolahan ikan. Ragam olahan ikan yang diperkenalkan pada peserta dan dipraktikkan secara langsung pun cukup banyak. Mulai dari otak-otak yang menjadi oleh oleh khas Makassar, abon ikan, sampai dengan olahan lainnya yang bernilai ekonomis.
Sebagai kota maritim dengan garis pantai yang panjang, Makassar memiliki kontur wilayah pesisir yang kaya akan potensi perikanan. Limpahan hasil laut yang besar selama ini menjadi penggerak utama ekonomi daerah, namun pemanfaatannya dinilai belum merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Di sisi lain, kelompok difabel masih menghadapi tembok besar berupa sulitnya akses lapangan kerja formal di sektor-sektor konvensional. Keterbatasan peluang kerja ini membuat inisiatif pengolahan hasil laut menjadi angin segar, yang diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus membuka ruang bagi masyarakat difabel untuk berkembang menjadi pelaku usaha mandiri.
Pelatihan ini diikuti oleh kurang lebih 30 peserta, yang terdiri dari masyarakat luas, difabel dan pendamping mereka dari berbagai organisasi difabel di Kota Makassar. Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali keterampilan mengolah komoditas perikanan agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar.
Kegiatan ini merupakan aksi nyata dari visi dan misi Kota Makassar, yaitu mewujudkan kota yang unggul dan inklusi. Di sini, semua orang tanpa terkecuali, termasuk saudara-saudara kita difabel, memiliki hak yang sama untuk diberdayakan secara ekonomi,” ujar Ramli dalam pembukaan acara.
Pendekatan inklusif yang diterapkan dalam pelatihan ini mendapat respon yang sangat positif dari para peserta. Kehadiran instruktur yang telaten membuat suasana belajar menjadi ramah dan mudah dipahami oleh seluruh peserta dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, termasuk kepada narasumber dan instruktur karena sudah memberikan ruang kepada kami untuk belajar bersama dengan kawan-kawan yang lain,” kata Hasniawati, salah satu peserta difabel.
Melalui pelatihan ini, Disperindag Kota Makassar berharap dapat mencetak wirausahawan baru yang mandiri dari kelompok difabel, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi kreatif berbasis produk pesisir di Kota Makassar. (*)
