Kejaksaan Tinggi Diminta Endus Dugaan Potensi Kerugian Negara Bangunan Gedung Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar

0
223
FOTO : Direktur PUKAT, Farid Mamma SH, MH

MAKASSAR — Potensi dugaan kerugian negara pada proyek pembangunan gedung Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar diharap menjadi atensi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan. Lembaga Pusat Kajian Advokasi Anti Korupsi (PUKAT) Sulawesi Selatan meminta Kejati mengendus dugaan penyimpangan keuangan negara dalam proyek tersebut.

Direktur PUKAT, Farid Mamma SH, MH kepada celebesnews.co.id pada, Senin (11/9/2023) menjelaskan apalagi proyek dengan anggaran puluhan miliar tahun 2021 tersebut menjadi temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sehingga patut untuk ditindaklanjuti.

“Kami menilai ada indikasi penyimpangan keuangan negara dalam proyek ini. Buktinya, BPK sebagai lembaga auditor negara menemukan adanya kelebihan bayar sehingga menjadi indikasi adanya potensi kerugian negara,”tuturnya.

Dikatakan Farid Mamma yang juga merupakan pengacara senior di Makassar ini, temuan BPK tersebut bisa menjadi langkah awal penyidik Kejati Sulsel masuk melakukan pemeriksaan dengan memanggil Kepala Balai Paru Makassar sebagai pengguna anggaran dan PPK serta PPTK dan penyedia jasa bersama konsultan proyek.

“Nah, silahkan masing-masing pihak mempertanggungjawabkan sesuai kapasitasnya masing-masing pada proyek ini. Temuan BPK itu harus ditindak lanjuti ke proses hukum. Kami akan terus mengawal persoalan ini bahkan dengan berencana segera memasukan laporan secara resmi ke Kejati Sulsel,”tandasnya.

Dikutip dari LHP BPK tahun 2021, pembangunan gedung BBKPM Makassar dilaksanakan oleh PT SKS berdasarkan Kontrak Nomor KN.01.04/XLVI.5/1654/2021 tanggal 28 Juni 2021 senilai Rp15.262.369.000,00 dengan jangka waktu 150 hari kalender mulai tanggal 9 Juli 2021 s.d. 24 November 2021. Kontrak tersebut diadendum dua kali, yaitu Adendum I Nomor KN.01.04/XLVI.5/1981.A/2021 tanggal 30 Juli 2021 yang mengubah nilai kontrak menjadi Rp16.462.349.000,00 atau naik sebesar Rp1.199.980.000,00 dan Adendum II Nomor KN.01.04/XLVI.5/2954/2021 tanggal 9 November 2021 menambah jangka waktu kontrak menjadi 182 hari kalender kerja s.d. 26 Desember 2021. Pekerjaan telah selesai dan telah dibayar 100%.

Hasil pemeriksaan atas pembangunan gedung tersebut terindikasi pelaksanaan pembangunan Gedung BBKPM Makassar Kurang Optimal dan pelaksanaan Pekerjaan Ramp Tidak Sesuai dengan DED.

Berdasarkan pemeriksaan fisik oleh BPK tanggal 11 Februari 2022, tinggi ramp 4,51-meter dan panjang 14,3 meter, sehingga perbandingan tinggi dan panjang 1:3 atau kurang dari yang ditetapkan dalam dokumen kontrak maupun Detail Enginering Design (DED) yaitu tinggi 4,5-meter dan panjang 23,5-meter.

Selain itu, penambahan Item Pekerjaan Mayor dalam Perubahan Kontrak penambahan nilai kontrak dalam Adendum I sebesar Rp1.199.980.000,00 akibat penambahan volume untuk pekerjaan pondasi dan pekerjaan struktur atas Gedung BBKPM Makassar serta beberapa item pekerjaan baru yang tidak ada dalam shop drawing dan RAB awal.

Berdasarkan Berita Acara Rapat Perubahan Kontrak Pekerjaan Nomor: N.01.04/XLVI.5/1947/2021 tanggal 26 Juli 2021 yang ditandatangani oleh PPK, Staf KPA, Kontraktor, dan Konsultan Pengawas, perubahan tersebut adalah penambahan luas area pekerjaan pondasi tiang pancang serta pekerjaan struktur atas Gedung BBKPM Makassar untuk memaksimalkan pemenuhan lahan pekerjaan pada pengadaan tahun 2021, mengingat pekerjaan pondasi tiang pancang tidak dapat dilakukan pada tahap selanjutnya, sehingga dikerjakan pada tahun 2021.

Kemudian penambahan item pekerjaan baru meliputi pekerjaan pemindahan tiang listrik trafo PLN, pekerjaan pemindahan kabel telkom, pekerjaan pemindahan GWT lama, pekerjaan struktur GWT baru, pekerjaan clean water supply instalation system, pekerjaan elektrikal untuk penerangan lantai 1 s.d lantai 3, pekerjaan rooftank, dan pompa. Atas item pekerjaan baru tersebut belum ada pada desain awal pekerjaan fisik untuk tahun 2021.

BPK juga menemukan DED tidak mempertimbangkan aksesibilitas mobilisasi alat berat dan tiang pancang ke lokasi proyek pekerjaan. Tiang pancang dengan panjang 9 meter membutuhkan ruang terbuka pada saat masuk ke lokasi proyek sehingga menyebabkan adanya penambahan item pekerjaan poin b).

Tidak hanya itu, dari hasil audit BPK menemukan Kelebihan Pembayaran atas Item Pekerjaan yang Tidak Terpasang Sebesar Rp341.595.817,70

Hasil pengujian dokumen back up data dan dokumen as built drawing serta pemeriksaan cek fisik atas pekerjaan pembangunan gedung BBKPM pada tanggal 11 Februari 2022, menunjukkan adanya beberapa item pekerjaan yang tidak terpasang sebagaimana dipersyaratkan dalam kontrak senilai Rp341.595.817,70 sehingga terindikasi dan berpotensi menimbulkan terjadinya kerugian negara.

Sementara itu, Kepala BBKPM berusaha dikonfirmasi oleh celebesnews melalui surat permintaan konfirmasi sejak pekan lalu hingga berita ini diturunkan masih belum tidak memberikan tanggapan dan jawaban. ( Laporan : celebesnews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here