HomeMakassarKlarifikasi Pesantren IMMIM Menanggapi Informasi yang Berkembang "Itu Tidak Benar"

Klarifikasi Pesantren IMMIM Menanggapi Informasi yang Berkembang “Itu Tidak Benar”

MAKASSAR — Pihak Pesantren IMMIM Putra Moncongloe akhirnya angkat suara terkait sorotan salah satu orang tua santri yang anaknya diduga mendapatkan perlakuan tak adil dikeluarkan dari sekolah lantaran ketahuan diduga ikut dalam pembobolan dan hilangnya barang pribadi milik satu uztad di pondok pesantren

Pihak kampus IMMIM Putra menjelaskan bahwa publikasi yang beredar saat ini tidak benar. Informasi tersebut disampaikan oleh orang tua salah satu santri lulusan SMP Pesantren IMMIM Tamalanrea yang anaknya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke Kampus Moncongloe.

Kronologi kejadian beberapa bulan lalu, sejumlah santri kelas 3 SMP di Tamalanrea melakukan kekhilafan dengan membuka paksa rumah ustadz yang sedang kosong berhari-hari. Pimpinan pesantren telah menjatuhkan sanksi, namun tetap memaafkan dan santri tetap melanjutkan kegiatan belajar mengajar mengingat santri akan segera melaksanakan ujian akhir.

Sejak awal, pesantren telah menyampaikan kepada seluruh santri kelas 3 bahwa syarat utama untuk dapat melanjutkan ke Moncongloe adalah akhlak yang baik. Hal ini dilakukan untuk memotivasi seluruh santri terus memperbaiki diri. Sayangnya, terdapat 2 orang santri yang dinilai belum memenuhi syarat tersebut, dan kebetulan keduanya termasuk dalam kelompok yang melakukan kekhilafan di atas.

Pihak kampus IMMIM menjelaskan alas an tidak dapat lanjut santri tersebut salah satu santri dinilai cenderung “mempengaruhi” teman-temannya untuk berbuat kerusakan. Dan untuk kepentingan santri lainnya, tak diberi izin lanjut di Moncongloe tetapi silakan memilih sekolah di luar.

“Untuk Ananda yg satu ini, anak yang orang tuanya menyebarkan informasi tersebut, selama masa pendidikan tercatat sering diminta ke Bimbingan Konseling Pesantren IMMIM karena terindikasi memiliki kebutuhan khusus. Pesantren menilai ia ikut-ikutan melakukan kekhilafan karena kesulitan beradaptasi dengan suasana pembelajaran di lingkungan pesantren. Pesantren IMMIM saat ini masih terbatas dalam kemampuan mengatasi anak dengan kebutuhan khusus. ⁠Karena itu, ananda santri tsb tidak dikeluarkan, melainkan dikembalikan kepada orang tua. ⁠Pertimbangannya: anak ini sangat membutuhkan pendampingan langsung dari orang tuanya, bukan berada di lingkungan pesantren”terang pihak Pesantren IMMIM.

Setelah keputusan disampaikan, ibunda Ananda santri ybs datang menemui pimpinan pesantren. Saat itu disampaikan dengan penuh keikhlasan: “Jaga baik-baik anak ini, anak ini sangat butuh orangtuanya. Memang kondisinya agak berbeda, namun ia butuh pendampingan khusus. Anak ini spesial, memiliki kebutuhan khusus — saya paham betul, karena almarhum cucu saya juga memiliki kondisi serupa. Saat itu ibunda telah memahami penjelasan ini, tetapi ayahnya saat itu masih berada di luar negeri,”terang pihak Pesantren.

Oleh karena itu, alasan yang menyebutkan anak ini dikeluarkan semata-mata karena kekhilafan tersebut sama sekali tidak berdasar. Karena setelah kejadian itu, pihak ustadz sudah memaafkan dan anak-anak tetap mengikuti seluruh pembelajaran hingga selesai ujian akhir.

Anak-anak memang berada di masa peralihan yang kadang masih melakukan kekhilafan. Apabila ada santri yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya di Moncongloe, hal itu selalu didasari pertimbangan matang — baik demi kepentingan terbaik santri itu sendiri, maupun kenyamanan dan manfaat bagi seluruh santri lainnya. ( Rilis)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments