HomeBerita UtamaRp3,1 Miliar Potensi Pendapatan Hilang, Bapenda Makassar Dalam Pusaran Temuan BPK

Rp3,1 Miliar Potensi Pendapatan Hilang, Bapenda Makassar Dalam Pusaran Temuan BPK

MAKASSAR — Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rp3,1 miliar berpotensi hilang. Angka ini seharusnya jadi potensi pendapatan masuk ke kas daerah Pemerintah Kota Makassar namun justru diberikan kepada pengusaha hiburan kelab malam dalam bentuk bentuan pemberian insetif fiskal oleh Bapenda Makassar.

BPK mencatat pemberian insentif Fiskal PBJT kepada pelaku Usaha Hiburan Kelab Malam, Bar, Rumah Minum/Pub, Diskotek, Karaoke, Panti Pijat, dan Mandi Uap/Spa justru melabrak aturan dan ketentuan. Nahhh…, ini kemudian jadi sorotan public.

Pengamat public di Makassar, Ikhsan kepada Celebesnews pada, Rabu (7/1/2026) menilai pemberian insentif fiskal tersebut justru patut dipertanyakan.

Justru muncul mendorong agar dilakukan audit terhadap insentif fiskal yang diberikan kepada para pelaku usaha. Tujuannya adalah untuk memastikan transparansi dan efektivitas dari kebijakan tersebut, serta untuk menilai apakah insentif tersebut benar-benar mencapai sasaran yang diinginkan pemerintah kota Makassar.

Langkah ini dianggap penting untuk akuntabilitas publik dan untuk mencegah adanya potensi penyalahgunaan atau inefisiensi dalam penggunaan dana negara. Audit ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai dampak ekonomi dari insentif yang diberikan kepada pelaku usaha Hiburan Kelab Malam, Bar, Rumah Minum/Pub, Diskotek, Karaoke, Panti Pijat, dan Mandi Uap/Spa di Makassar.

Untuk diketahui temuan BPK dengan tegas menyebut pemberian insentif senilai Rp3.195.535.254,00 kepada pelaku Usaha Hiburan Kelab Malam, Bar, Rumah Minum/Pub, Diskotek, Karaoke, Panti Pijat, dan Mandi Uap/Spa oleh Bapenda Makassar melanggar aturan alias tak sesuai ketentuan sebagaimana temuan BPK pada laporan hasil pemeriksaan tahun 2024.

Hasil reviu Peraturan Wali Kota Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pemberian Insentif Fiskal kepada Pelaku Usaha Hiburan Kelab Malam,Bar, Rumah Minum/Pub, Diskotek, Karaoke, Panti Pijat, dan MandiUap/Spa menunjukkan bahwa besaran tarif insentif fiskal dapat diberikan kepada WP PBJT Hiburan sesuai dengan jenis usahanya.

Lebih lanjut, Peraturan Wali Kota Nomor 12 Tahun 2024 tentang Administrasi dan Tata Cara Pemberian Insentif Fiskal bagi Pelaku Usaha pada Pasal 3 ayat (3) menyatakan bahwa insentif fiskal dapat diberikan secara jabatan olehw alikota berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar wajib pajak, kondisi tertentu objek pajak, untuk mendukung pelaku usaha mikro dan ultra mikro, untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam mencapai program prioritas daerah dan untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mencapai program prioritas nasional.

Selanjutnya padaPasal 7 ayat (2) menyatakan bahwa pemberian insentif fiskal diberikan setelah dilakukan penelitian dan telaahan staf oleh bidang teknis.

Berdasarkan dokumen penghitungan PBJT Hiburan, diketahui bahwa terdapat pemberian insentif fiskal kepada wajib pajak sebesar Rp3.195.535.254,00. Hasil walkthrough atas pengenaan insentif fiskal diketahui bahwa Bapenda secara langsung memberikan insentif fiskal kepada pelaku usaha hiburan kelab malam, bar, rumah minum/pub,diskotek, karaoke, panti pijat, dan mandi uap/spa dari persentase nilai SPTPD.

Pemberian insentif fiskal tersebut juga tidak didukung dengan penelitian dan hasil telaahan staf oleh bidang teknis

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah pada Pasal 58 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Tarif PBJT ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).

Selanjutnya pada Pasal 58 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Khusus tarif PBJT atas jasa hiburan pada diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa ditetapkan paling rendah 40% (empat puluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen).

Kondisi tersebut mengakibatkan potensi kehilangan penerimaan atas objek pajak yang belum terdaftar dan persoalan ini disebabkan Kepala Bapenda tak optimal melakukan pengawasan pengelolaan pajak daerah sehingga Pemkot Makassar berpotensi kehilangan pendapatan Rp3.195.535.254,00 pada tahun 2024.

Terpisah, Kepala Bapenda Makassar yang berusaha dikonfirmasi oleh Celebesnews melalui surat permintaan konfirmasi hingga berita ini diturunkan memilih bungkam dan masih tak memberikan tanggapan serta jawaban. ( Liputan : Andi Marlin )

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments